Setiap diri dikaruniai oleh Tuhan sebuah jiwa, yang dengan jiwa itu, ia bebas menentukan pilihan reaksi.Bereaksi positif atau negatif, bereaksi berhenti atau melanjutkan, bereaksi marah atau sabar, bereaksi reaktif atau proaktif, bereaksi baik atau buruk ( Ari Ginandjar )
Ari, Martaya, Soes, Jati, dan Estu asyik berdiskusi merenungkan nasib mereka di yayasan pendidikan tempat mereka bekerja. Isu adanya beberapa pegawai yang di non-job kan begitu santer terdengar. Pegawai yang tidak bisa mengaji dan kinera menjadi alasan utamanya. Ada empat orang pegawai laki-laki yang menjadi calon. Ari begitu gundah, malam-malam penuh kenikmatan dan kehangatan istri di samping tak ia rasakan sejak isu tersebut. Ari merasa dirinya adalah bagian dari pegawai yang akan di non-job kan. Sebagaian orang menganggap non-job merupakan nasib yang menguntungkan. Bagaimana tidak, ia tak memiliki kewajiban bekerja tetapi gaji tiap bulan tetap diterima. Namun hati nurani mengatakannya berbeda, non job adalah nasib yang menghinakan bagi pekerja. Seorang maling pun lebih mulia karena ia bekerja mengeluarkan keringat.
Barangkali kita pernah merasakan hal serupa. Wajar, karena sebagai kepala keluarga kita harus mencari nafkah untuk menghidupi kebutuhan anak dan istri. Yang menjadi masalah adalah jika kita terlalu larut dengan takdir atau nasib yang menimpa, maka kehidupan ini tak akan bahagia. Kebahagiaan bisa kita raih jika kita bahagia. Ada banyak jalan yang bisa membuat kita bahagia. Satu kunci ada pada mental kita. Jika kita ingin bahagia, maka syarat utama adalah melepaskan segala belenggu yang membelit diri. Salah satunya adalah ketergantungan kita terhadap manusia serta harapan-harapan kepadanya.
Mari kita berpikir sejenak! Jika kita membutuhkan uang, kemana kita akan pinjam? Pasti kepada orang yang punya uang bukan? Jika kita membutuhkan solusi, kemana kita akan mencari? Pasti kepada orang yang kita anggap bijaksana bukan? Tetapi ada yang lebih kaya, lebih bijak dari semua itu, ialah Tuhan Yang Maha Segalanya.
Sakit jika kita memiliki harapan, tetapi lebih sakit jika kita tak punya harapan. Mari kita serahkan sepenuhnya nasib kita kepada Tuhan setelah kita berusaha.“Perumpamaan orang yang mengambil selain Allah sebagai pelindung, adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuk dirinya sendiri. Tapi sebenarnya rumah laba-laba itu adalah serapuh-rapuhya rumah, jika mereka tahu” – QS. AL ‘ANKABUUT(laba-laba) 29:41-









tulisan yang membangun…
saya setuju “Jika kita ingin bahagia, maka syarat utama adalah melepaskan segala belenggu yang membelit diri.”