Menebus Keyakinan

Pagi ketika segelas kopi kuteguk di warung Mbak Sri, Pak Kadar datang dengan seringai senang trepancar di wajah.

“Assalamualaikum Ustadz!” sapanya kepadaku.

“Waalaikum salam”

Kegiatan mereguk kopi terus berlanjut. Tak ada orang lain kecuali aku, Pak Kadar dan Mbak Sri pagi itu. Maklum mentari masih belum terang benar. Mbah Surip, ibu Mbak Sri yang biasa membantu tak jua muncul ujung hidungnya. Barangkali masih menggantikan fungsi Mbak Sri di rumah mengurus anaknya Koko menyiapkan sarapan pagi. Merasa sepi dan tak ada bahan pembicaraan di antara kami, Pak Kadar melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat aku tersentak. Hampir-hampir kopi yang belum tuntas kuteguk muncrat ke permukaan.

“Ustadz, Amrozi cs itu mati SAHID atau SAKIT?”

***

Diterbitkan di: on November 18, 2008 at 5:49 am Tinggalkan sebuah Komentar

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://sekulmegono.wordpress.com/2008/11/18/menebus-keyakinan/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Leave a Comment