PARADIGMA
Paradigma adalah cara kita melihat (mempersepsi, mengerti, menafsirkan) dunia –disebut juga worldview atau mafahim ‘ani al-insan, wa al-kaun, wa al-hayat.
Cara pandang menentukan sikap atau perilaku dan perasaan. Ketika melihat dengan cara yang berbeda, maka akan berfikir dengan cara yang berbeda — merasa dengan cara yang berbeda — dan berperilaku yang berbeda pula. Cara kita melihat masalah merupakan masalah itu sendiri. Pertanyaannya adalah berpusat pada apa kita menyikapi masalah tersebut? (lagi…)
Sakit Jika Kita Punya Harapan
Setiap diri dikaruniai oleh Tuhan sebuah jiwa, yang dengan jiwa itu, ia bebas menentukan pilihan reaksi.Bereaksi positif atau negatif, bereaksi berhenti atau melanjutkan, bereaksi marah atau sabar, bereaksi reaktif atau proaktif, bereaksi baik atau buruk ( Ari Ginandjar ) (lagi…)
Jangan Remehkan Perkara Kecil
Aja sira agepage nandangi pakaryan gedhe utawa ngarep-arep tekane pakaryan gedhe, amarga pakaryan gedhe iku arang tekane. Kang kerep sira sandung iku pakaryan kang cilik-cilik.
Sira aja ngremehake marang pakaryan kang cilik-cilik iku, amarga yen sira durung kulina nandangi pakaryan kang gampang, kepriye anggone sira bakal nandangi pakaryan kang angel.
Mulane samubarang kang tinemu ing tanganira, lakonana kalawan temen-temen ing ati suci. Atasna awit karsaning gusti, amarga ora ana pakaryan ing donya iki kang ora atas karsaning Pangeran, nadyan kang katone remeh pisan ( serat Sasangka Jati )
Mustahil Guru Dapat Menulis
Mustahil guru dapat menulis. Lihat saja saat lomba penulisan artikel untuk guru. Tengok media massa yang memuat tulisan dari guru. Jarang sekali guru dapat meluangkan waktunya untuk menulis. seribu satu alasan pasti ada sebagai alibi. Hal inilah yang menjadi latar belakang teman mahasiswa UNESS untuk menyelenggarakan PELATIHAN MENULIS ARTIKEL DI MEDIA MASSA BAGI GURU pada hari Minggu, 12 Mei 2008 di gedung Dekanat UNESS. Ramai sih. Target sebenarnya 100 peserta. Namun membludak hingga170 peserta guru di seluruh Jateng hadir ( selamat dech Banyak motivasi mereka datang dalam acara tersebut. Satu hal yang pasti, hebohnya isu sertifikasi membuat guru ramai berburu pelatihan demi piagam pun dalam pelatihan itu. Harapan panitia serta Mas Gunawan B S pengasuh rubrik Suara Guru di harian Suara Merdeka, pelatihan ini dapat memberikan motivasi dan semangat guru untuk menulis. Sssttt….honor menulis di rubrik suara guru sekitar 150 ribuan lho, lumayan khan buat belanja.
Nah, selain itu aku punya informasi nih, sekadar motivasi buat rekan guru untuk menulis. Pokoknya dengan menulis selain dapat credit point juga credit coin ( kata Pak Sucipto Hadi Purnomo ).
Pusbuk Online (17-2-2008) Guna memudahkan akses pemilikan buku pelajaran bagi siswa SD-SLTA, pemerintah menantang para guru untuk mengajukan naskah buku teks pelajaran. Naskah yang dinyatakan lolos Badan Standar Nasional Pendidikan akan dibeli Depdiknas Rp 100 juta-Rp 175 juta per buku. ( sumber : sibi.or.id )
klik di sini juga untuk tahu peluang guru dapat honor ( uang ) melalui menulis.
Guru Idealis VS Guru Komersial
Kata-kata pemikat keluar dengan seribu janji. Donatur tetap tiap kegiatan sekolah, uang saku piknik guru, kaos, jaket, ngopi bareng dan seabreg janji lainnya. Bagi kami sebagai guru yang memiliki gaji pas-pasan, tawaran tersebut sangat memikat hati dan melambungkan angan kami. Semua itu pastilah ada udang di balik tahu gimbal. Ada maksud tersembunyi dari itu semua. Mereka akan memberikan apa yang telah mereka janjikan jika buku mereka dipakai oleh siswa. minimal 10 kelas dengan berbagai bidang pelajaran.
“Iya, kita terima saja. Tokh, buku pelajaran sama saja khan isinya. Kita tinggal mengembangkannya. Lagi pula kita juga butuh itu semua. Apalagi atasan kian hari kian menekan pendapatan tambahan kita” kata beberapa guru komersial
“Sorry, kami tidak akan menggadaikan pendidikan ini untuk hal yang sepele. Kita perlu menelaah kelaikan buku mereka. Masa depan anak didik kita ada di tangan kita. Jangan sembarangan kita bertindak. Kita memang butuh, tapi yakinlah masih banyak jalan menambah rezeki” kata rekan guru yang idealis.
“Kalau saya tidak, menurut kami kita telaah dulu buku tersebut. Kita buat perjanjian dengan mereka. Jika buku mereka kami pakai setelah proses telaah, mau tidak mereka berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Jadi urutan kerjanya kita telaah dulu. Setelah kita dapat hasilnya, kita ingatkan mereka akan janji yang telah disepakati. Kita nggak munafik kalau kita butuh fasilitas tambahan, tapi anak didik juga harus kita perhatikan.”Kata guru kritis menengahi.
Bagaimana menurut anda?
Nge-BLOG Masuk Penilaian Portopolio, Bisakah?
Guru adalah pendidik profesional yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,melatih serta mengadakan evaluasi bagi peserta didik. Guru sebagai sebuah profesi dituntut memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk tujuan pendidikan nasional.Kualifikasi akademik ini meliputi pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman dari berbagai organisasi dibidang pendidikan dan sosial, serta penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Kelangsungan sistem pendidikan mutlak memerlukan guru yang berkompeten. Guru harus benar-benar memiliki keahlian yang diperlukan untuk menunjang profesinya. Menurut UUGD No 14 tahun 2005 kompetensi yang wajib dimiliki seorang guru adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Kualifikasi akademik dan kompetensi inilah yang digunakan untuk mengajukan sertifikat pendidik melalui penilaian portopolio. Portopolio adalah kumpulan dokumen seseorang yang menunjukkan sebuah prestasi. Bagi guru portopolio ini merupakan kumpulan prestasi dan pengalaman seorang guru selama mengajar dengan interval waktu tertentu. Penilaian portopolio ini merupakan salah satu penilaian sebagai pengakuan atas pengalaman seorang guru.
Lantas apa hubungannya penilaian portopolio ini dengan nge-blog?
Sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas, syarat pengajuan sertifikat pendidik dalam bentuk penilaian portopolio bilamana guru memiliki kualifikasi akademik serta kompetensi. Salah satu dari unsur kualifikasi akademik adalah memiliki karya pengembangan profesi. Jenis dokumen atau karya pengembangan profesi itu di antaranya adalah ; Buku yang dipublikasikan tingkat kabupaten / kota, propinsi atau nasional; Artikel yang dipublikasikan lewat jurnal yang terakreditasi maupun tidak, majalah atau koran tingkat lokal, nasional maupun internasional; Pernah menjadi reviewer buku; Penulis soal EBTA / EBTANAS / UAN; Membuat modul atau buku minimal untuk satu tahun atau dua semester; Pembuatan media pembelajaran; Laporan penelitian di bidang pendidikan; karya teknologi / seni yang meliputi teknologi tepat guna, patung, rupa, lukis, sastra dll.
Dengan demikian kemampuan menulis seorang guru sangat diperlukan untuk memenuhi syarat-syarat tersebut. Ironisnya banyak guru belum terbiasa dengan budaya menulis. Seribu satu alasan digunakan sebagai alibi menghindarkan diri dari aktifitas menulis. Padahal banyak bahan yang dapat dikaji oleh guru untuk membuat sebuah karya tulis. J.K Rowling seorang penulis novel terkaya di dunia saat ini dengan best sellernya yakni Harry Potter mengatakan,”mulailah dengan menuliskan hal-hal yang engkau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dari perasaan diri sendiri. Itulah yang telah saya lakukan”. Stephen King seorang penulis novel legendaris dari Amerika juga mengemukakan hal yang serupa yakni menulislah apa yang engkau ketahui. Guru dapat menuliskan topik berkenaan dengan kehidupannya sebagai seorang guru yang bergelut di bidang pendidikan. Guru dapat mengangkat topik seperti perubahan kurikulum yang berlaku. Kurikulum merupakan jawaban atas tuntutan tren yang berlaku di masyarakat. Kehidupan masyarakat yang dinamis membuat kurikulum mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Konsep-konsep baru mengenai metode pembelajaran tumbuh bak cendawan pada musim hujan. Katakanlah seperti konsep Contextual Teaching Learning (CTL), quantum learning, quantum teaching, the accelerated learning, revolusi cara belajar hingga mind mapping-nya Tony Buzan. Konsep tersebut dapat kita uji coba ketika melakukan pembelajaran di sekolah. Pengalaman melakukan uji coba inilah yang dapat kita laporkan dalam sebuah tulisan. Selain itu guru juga dapat membuat tulisan yang dikaji dari masalah psikologi serta penindakan terhadap siswa. Berbicara masalah siswa adalah bahan yang tak akan habis untuk dikaji. Penerimaan siswa baru, ujian nasional bahkan curahan hati dari orangtua murid pun tak ada salahnya untuk diangkat. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi guru untuk memberikan pernyataan tidak dapat menulis karena tidak ada ide atau gagasan yang akan dibuat tulisan.
Blog sangat erat kaitannya dengan dunia tulis menulis. Blog singkatan dari weblog artinya jurnal (log) dalam web. Blog berisi jurnal harian atau tulisan seseorang yang dipublikasikan secara online melalui media internet. AC NIELSEN dalam surveynya menyebutkan bahwa prosentase penggunaan internet di Indonesia hanya sekitar 1 persen, sedangkan berdasarkan survey dari clearcommerce.com pada tahun 2002 Indonesia mencapai angka sekitar 20 persen untuk prosentase penyalahgunaan internet. Program pendidikan dan pelatihan teknologi informatika komputer yang diselenggarakan oleh LPMP agaknya mendapat sambutan positif dari masyarakat pendidikan Indonesia. Oleh karena itu hasil survey tersebut agaknya dapat kita tepis mengingat banyak blog yang berkembang dalam dunia maya adalah milik guru Indonesia. Postingan (baca:tulisan) mereka dapat dikatakan tidak sedikit. Contohnya adalah blog sawali.wordpress.com milik Bapak Sawali.Traffic atau jumlah pengunjungnya mencapai ratusan hingga puluhan ribu. Blog ini banyak diadopsi oleh para guru muda untuk mengikuti jejak langkahnya. Hal ini membuktikan bahwa eksistensi blog guru tidak dapat diragukan lagi. Kini saatnya blog dipertimbangkan sebagai salah satu kategori jurnal dalam karya pengembangan profesi sebagaimana yang termaktub dalam lembar penilaian portopolio.
Namun demikian pernyataan ini jangan dipahami sebagaimana adanya. Banyak kelebihan dan kekurangan blog yang mesti dipertimbangkan oleh penyelenggara sertifikasi. Kelebihan dari blog salah satunya adalah jaringan yang terbentuk melalui interaksi para anggota komunitas blogger (sebutan untuk orang yang memiliki blog). Interaksi ini diwujudkan dengan saling memberikan komentar serta saling menukar link ( alamat / nama blog yang dimiliki). Tiap kali seorang blogger memasang tulisan di blog, para pembaca bisa memberikan komentar dari tulisan tersebut. Gantian kita juga memberikan komentar setelah membaca tulisan dari blog mereka. Semakin banyak komentar yang ditinggalkan berarti semakin menarik pula tulisan tersebut. Perasaan takut atas kritikan dan masukkan yang dilayangkan lewat komentar tersebut harus kita buang jauh-jauh. Ada kalanya komentar-komentar itu dapat menjadi al
at evaluasi tulisan kita. Barangkali komentar ini dapat kita ibaratkan sebuah forum atau seminar yang dilakukan lewat udara.
Konsep dasar blog adalah jurnal pribadi layaknya buku harian atau diary. Pemilik blog bebas menuliskan ide dan gagasannya sesuai dengan gaya penyajian masing-masing. Inilah yang harus dipertimbangkan dari blog apabila akan dimasukkan dalam kriteria karya pengembangan profesi. Tulisan yang diposting di blog adalah murni kehendak sang pemilik blog. Tidak ada seorang editor yang bertugas menyaring apakah tulisan tersebut telah memenuhi kaidah ilmiah sebuah karya tulis ataukah tidak.
Apakah berarti blog tidak layak untuk masuk dalam dokumen penilaian portopolio?. Kiranya membaca perkembangan dunia teknologi komputer yang telah merambah di sektor guru ini, pihak penyelenggara sertifikasi dapat merespon positif dengan memberikan fasilitas kepada guru untuk mengirimkan karya ilmiahnya melalui blog. Blog ini dikelola oleh pihak penyelenggara. Pengelola berhak menentukan tulisan mana yang layak untuk dipublikasikan.
Terakhir saya hanya berharap kiranya cinta tidak bertepuk sebelah tangan mengingat jumlah guru yang terdaftar secara online di jardiknas.com mencapai sekitar 1.293.758 orang. Jangan sampai minat guru terhadap perkembangan TI tidak mendapat respon dan penghargaan dari semua kalangan demi peningkatan profesionalitas seorang guru Indonesia.









