Menebus Keyakinan

Pagi ketika segelas kopi kuteguk di warung Mbak Sri, Pak Kadar datang dengan seringai senang trepancar di wajah.

“Assalamualaikum Ustadz!” sapanya kepadaku.

“Waalaikum salam”

Kegiatan mereguk kopi terus berlanjut. Tak ada orang lain kecuali aku, Pak Kadar dan Mbak Sri pagi itu. Maklum mentari masih belum terang benar. Mbah Surip, ibu Mbak Sri yang biasa membantu tak jua muncul ujung hidungnya. Barangkali masih menggantikan fungsi Mbak Sri di rumah mengurus anaknya Koko menyiapkan sarapan pagi. Merasa sepi dan tak ada bahan pembicaraan di antara kami, Pak Kadar melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat aku tersentak. Hampir-hampir kopi yang belum tuntas kuteguk muncrat ke permukaan.

“Ustadz, Amrozi cs itu mati SAHID atau SAKIT?”

***

Diterbitkan di: on November 18, 2008 at 5:49 am Tinggalkan sebuah Komentar

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

Diterbitkan di: on Oktober 1, 2008 at 1:19 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Surat Buat Umi

Terimakasih atas perhatianmu padaku duhai Juwita,

Aku yang engkau anggap sebagai kepala rumahtangga,

Aku yang engkau anggap sebagai Imam

Tak banyak yang bisa aku berikan padamu. Jujur aku sampaikan bahwa ilmu yang aku miliki belumlah sebanding dengan apa yang Ia miliki. Maka maafkanlah aku jika belum maksimal membimbingmu. Ingatlah sebuah cerita tentang seorang pelacur yang masuk syurga gara-gara memberikan minum seekor anjing yang sekarat. Maka renungkanlah duhai istriku… Apa yang membuat dia diterima Allah di surga?

Ingat pula tentang kisah orang-orang saleh yang dijamin masuk surga… Apa yang membuat mereka diterima Allah di syurga?

Duhai istriku, aku ingin sekali kita sekeluarga berada di Jannah bersama-sama. Tak bisa kubayangkan manakala aku berada jauh darimu di yaumil akhir nanti. Aku ingin bidadari itu adalah dirimu. Maka tak bisa yang aku berikan kepadamu. Mari kita bersama-sama mencari keridhoan Allah, marilah kita belajar IKHLAS dalam mengarungi kehidupan ini, marilah kita mengerti apa kehendak Tuhan kepada kita.

Dan, Marilah kita pasrahkan hidup kita kepada Ia yang Maha. Patutkah engkau meminta kepadaku jika ada kekuatan lain yang LEBIH HEBAT daripadaku? Patutkah engkau memohon petunjuk jika ada yang LEBIH ARIF daripadaku?

Diterbitkan di: on September 25, 2008 at 2:28 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Surat Buat Abi

Pagi…

Saat kubuka dompet butut sekadar melihat STNK yang masih bercokol di dalam. Kutemukan sepucuk surat dari istriku di dalamnya. Sungguh sebuah kejutan yang tak pernah aku duga sebelumnya. Kubuka dan kubaca…..

Buat Abi Yang sangat Umi cintai

Salam sayang serta cinta untuk Abi seorang. Tak terasa ya, Bi perjalanan hidup kita dalam menjalani kehidupan rumah tangga ini. Rasa suka dan duka sudah kita rasakan bersama. Alhamdulillah Allah selalu melindungi kita. Kita masih diberi kekuatan serta kesabaran menjalani ini. Terimakasih ya Tuhan, Engkau berikan suami yang sholeh buat hamba. Umi bersyukur banget punya suami seperti Abi. Abi sangat penyabar, Abi sangat penyayang kepada Umi dan juga Akhsan. Umi sayang banget sama Abi dan Akhsan.

Abi yang slalu di hati…

Lamanya perjalanan hidup kita dalam berumahtangga seharusnya banyak sekali amal ibadah kita yang sudah didapat, karena suami dan anak adalah ladang amal yang sangat besar bagi Umi. Tetapi Umi bertanya kepada diri sendiri sudahkah Umi mendapatkannya? Jawabannya nol besarr…

Kalo Umi menengok ke belakang, Umi sedih sekali. Umi sangat berdosa, Umi menangis dan menjerit atas waktu serta kesempatan yang sangat disia-siakan. MAAFKAN UMI YA BI…..

Betapa besar dosa Umi kepada Abi. Umi yang selalu pemarah, Umi yang pembangkang, Umi yang egois, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sungguh berbeda sekali dengan Umi yang dulu. Umi yang lembut, penyabar, pemaaf, slalu menghargai orang lain, rajin beribadah dan selalu dekat dengan Allah. Hal ini Umi rasakan sendiri 100% telah berubah. Entah apa yang menyebabkan semua ini. Umi hanya menyalahkan diri sendiri. Mungkin iman yang tidak kuat.

Abi yang di hati…

Abi adalah kepala rumahtangga di rumah ini. Abi adalah iman di rumah ini. Tolonglah Bi, bantu Umi, bimbing Umi, arahkan Umi menjadi istri yang baik, jadikan Umi istri yang sholehah, bantulah Umi ya,Bi! Abi adalah guru bagi Umi dan Akhsan. Insya Allah kita masuk surga bersama-sama. Amiin….

Diterbitkan di: on September 19, 2008 at 2:47 am Komentar (1)

Dan Allah Kuasa Atas Rezeki Makhluk-Nya

Sampai saat ini aku bertanya-tanya kepada Allah, mengapa setiap aku mengucapkan suatu nasehat atau ingin menulis tentang suatu hal, Allah memberikan cobaan dengan kejadian yang aku katakan atau ingin aku tuliskan.

17 September pukul 24.00 aku belum bisa memejamkan mata. Ku ambil kitab suci, kubaca dan kupahami. Malam itu aku hendak mencari kunci penawar hati ketika dirundung duka. Halaman demi halaman, ayat per ayat dalam surat Al Baqarah(2) aku baca. Tentu hanya terjemahannya saja karena ku belum memahami bahasa arab. Beberapa ayat aku lingkari sebagai jawaban atas persoalan yang aku cari.

18 September, tepatnya siang sebelum sholat Dzuhur, Pak Teguh, Kepala sekolahku ingin berbicara empat mata. Hal pokok yang ia sampaikan yakni tahun ini aku tidak mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya). Aku terpana, pandanganku kosong, mulutku melongo, wajah terasa terbakar, seluruh tubuh bergetar dan telinga berdengung mendengar kabar ini, KAGET!!!!!. Entah apa yang beliau sampaikan sesudahnya, aku nyaris tak memperhatikannya.

Ya Allah, cobaan apa lagi yang kau timpakan kepadaku?. Memori dalam otak bawah sadarku segera membuka file surat Al Baqarah yang aku buka semalam.

Kami Berfirman:” Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati” (2:38)

Tidak, aku tidak boleh bersedih jika aku tak mendapatkan THR tahun ini. Aku segera mencari petunjuk untuk obat kesedihan ini. Dan aku temukan kitab bahwa kitab Al-Quran ini sebagai petunjuk-Ku. Tidak ada keraguan sama sekali padanya (2:2). maka aku buka kitab panduan hidupku itu.

Ya Allah, aku percaya bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik-Mu. Dan tiada orang lain yang dapat melindungi dan menolongku selain Engkau. Pak Teguh telah berusaha memperjuangkan nasibku di hadapan orang yayasan ( Idrus), namun hal apa yang membuat hati Idrus tertutup. Aku berserah diri kepada-Mu (2:112).

Ya Allah aku sadar sepenuhnya bahwa Engkau berhak memberikan aku cobaan dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (2:155).

Aku sadar sepenuhnya bahwa cobaan yang Engkau berikan sesuai dengan kadar dan kesanggupanku (2:233). Oleh karena itu, akan kujadikan sabar dan sholat sebagai penolong seperti apa yang Kau firmankan. (2:45). Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Semoga cobaan ini akan membawaku mendapatkan berkat dan rahmat-Mu serta menjadikan aku termasuk ke dalam orang-orang yang Kau beri petunjuk. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas (2:212)

Diterbitkan di: on at 2:44 am Komentar (1)

Keajaiban Lailatul Qadar

Beberapa orang datang berduyun-duyun hendak protes kepada sang Nabi. Dari spanduk yang mereka bentangkan tampak keinginan mereka. Spanduk itu di antaranya bertuliskan “panjangkan umur kami”, “Beri kesempatan kami beramal lebih”. Unjuk rasa ini diketahui oleh sang Nabi. Tidak seperti pejabat saat ini yang tak mau menemui pengunjuk rasa langsung di lapangan, Sang Nabi tak gentar menghadapi mereka. Nabi menanyakan maksud mereka mengunjukkan rasanya. Ternyata orang-orang tersebut protes karena umur mereka lebih pendek dibandingkan dengan umur para moyangnya yang mencapai hingga 100 tahun-an. Mereka berpikir moyang merekalah yang banyak menghuni surga karena umur yang panjang membuat mereka memiliki kesempatan lebih untuk mencari bekal akhirat. Sedangkan mereka….

Sang Nabi pun melaporkan hal ini kepada Sang Khalik. Lalu sang Khalik memberikan hadiah suatu malam yang setara dengan 1000 bulan. Itulah malam Lailatul Qadar.

Diterbitkan di: on September 15, 2008 at 8:04 am Tinggalkan sebuah Komentar

SURGA ATAU NERAKA

Kyai, pendeta, pastur dan teman-teman yang mengaku memiliki iman yang kuat berkata bahwa surga disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Taqwa dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika tidak….hati-hati neraka siap menanti.

Tapi aku heran, kenapa seorang pelacur yang memberi minum anjing jalanan yang sekarat bisa pula masuk surga. Aku jadi bertanya, apa sih kunci dari kehidupan dunia ini sehingga kita beroleh bekal untuk kehidupan yang kekal di surga?

Diterbitkan di: on September 11, 2008 at 7:11 am Tinggalkan sebuah Komentar

Cap Pantat Kuda

Mr Brown Kuda pacuan milik juragan Broto memekik keras ketika besi panas mendarat telak di pantatnya. Besi yang digunakan untuk memberikan cap pada kuda sebagai tanda siap dijual. Perasaan Mr. Brown gundah gulana. Bagaimana tidak, hanya gara-gara tidak berhasil menjuarai turnamen pacuan kuda selama empat kali berturut-turut, dia mesti dijual. Padahal berpuluh kejuaraan telah dia menangkan sempurna. Kini pengabdian kepada tuannya harus berakhir setelah sepuluh tahun memberikan keuntungan bagi sang juragan dengan meninggalkan cap di pantatnya yang tak akan hilang hingga akhir hayat. “Sungguh tak berperikudaan” gumam Mr. Brown

Pun dengan kita. Kadang kala kita memberikan cap-cap kepada sesama. Cap menjadi trademark seseorang dalam hidup di lingkungannya. Cap dermawan, cap agamawan, cap bijaksana, cap seniman, cap bajingan, cap santri, cap munafik dan sederet cap lainnya. Seperti halnya dengan cap pada pantat kuda. Cap yang diberikan dari manusia kepada manusia tak akan hilang hingga akhir hayat. Jika kita sudah mendapatkan sebagai cap santri maka cap tersebut akan melekat. Namun, cap-cap yang termasuk dalam kategori yang baik-baik saja sifatnya sementara. Cap kebaikan itu akan ditambal dengan cap satu keburukan yang kita lakukan ibarat susu sebelanga rusak karena nilla setetes. Parahnya cap keburukan tersebut akan terpatri kuat dalam pikiran mereka. Untuk menghilangkan cap tersebut butuh perjuangan yang berliku. Tak mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Kesimpulannya, gampang jika kita ingin mendapatkan kepercayaan tetapi sulit mengembalikannya jika kita mengingkari. Cap pantat kuda itu akan terus berlaku dalam diri kita. Nggak percaya? Lihat saja pantat kita masing-masing J.

Diterbitkan di: on Juni 19, 2008 at 1:40 am Tinggalkan sebuah Komentar

Terjebak Dalam Raga Yang Salah

Mulai sekarang, jangan pernah lagi langsung menganggap atau menuduh seseorang gay (homoseksual atau lesbian), saat menemui seorang laki-laki menyukai sesama laki-laki atau perempuan menyukai kaum sejenisnya. Boleh jadi, mereka bukan pengidap kelainan orientasi seksual, tapi benar-benar penderita penyakit ambiguous genitalia atau sex ambiguit

y, atau “kebingungan jenis kelamin”. Penyakit yang sering dikenal awam sebagai penyakit kelamin ganda atau hermaprodit, yang dalam bahasa medisnya disebut sebagai hipospadia atau intersex.(kickandy.com)

(lagi…)

Diterbitkan di: on Juni 10, 2008 at 4:27 am Tinggalkan sebuah Komentar

Rezeki Seekor Cicak

Senja belumlah temaram namun langit tak secerah untuk ukuran jam 4 sore. Aku habiskan waktu dengan anak lanang yang ditinggal ibunya mengais rezeki dari usaha kelilingan batik. Anak lanang duduk semampai dalam kereta dorong sambil jegang kaki laksana bos. Barangkali bakt menjadi pemimpin telah tampak pada dirinya. Aku hanya bisa berdoa jika kelak ia menjadi pemimpin, ia adalah pemimpin yang membela kaum yang lemah. Kaum yang terjajah oleh kapitalis-kapitalis keji. Suaranya akan didengar dengan gentar karena menyuarakan kebenaran. Amiin.

Kuajak anak lanang masuk rumah setelah puas menyaksikan teman sebaya dan atas bayanya bermain dihalaman. Celoteh riang terdengar dari anak-anak yang bermain. Di sudut lain terlihat salah satu anak yang menangis karena mainannya dirampas oleh temannya. Tak ada siapapun yang datang untuk meredakan tangisnya hingga akhirnya anak tersebut lari masuk ke rumah meminta perlindungan kepada ayah ibunya. Namun kemanakah jika rakyat kecil hatinya menangis karena ketidak adilan yang dirasa? Kepada Pemerintah yang kita anggap sebagai orangtuakah? hem…?.

Kulihat seekor si Plontang, kucing kalasan mendekati anak lanang. Seperti biasanya anak lanang hanya berceloteh, menjerit gregetan ingin mengelus si Plontang. Demi seonggok ikan teri sisa makanan kami, si Plontang rela nyelondohi ( baca=mengambil hati ). Ketika mengeluskan dirinya di kereta dorong anak lanang, sekonyong-konyong jatuh dari langit cicak tepat di depan si Plontang. Mak teplok….Sigap dan cepat si Plontang menangkap cicak tersebut dengan mulutnya. Nyam-nyam….. Rasa lapar yang menghinggapinya tersalurkan dengan cicak yang datang tanpa dia duga sebelumnya. Aku ingat pada firman Allah dalam surat Hud ayat 6 bahwa “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata.“

Anak lanang diam tepekur melihat pemandangan tersebut. Diamnya barangkali merenungi bahwa rezeki itu datangnya dari Allah tanpa kita duga kapan dan dari mana datangnya. Anak lanang memandangku sambil tersenyum padaku. Jika dia bisa berucap barangkali dia akan berteriak, Ayah, aku mendapat pelajaran berharga.

Diterbitkan di: on Juni 3, 2008 at 5:44 am Tinggalkan sebuah Komentar